BREAKING NEWS

BERITA ROHINGYA

PHOTO ROHINGYA

POSKO

From our Blog

Aliansi Masyarakat Aceh Tolak Deportasi Rohingya

ACEHTERKINI.COM | Sejumlah organisasi Islam di Aceh yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya menolak pemulangan Rohingnya ke negara asalnya. Koordinator Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya, Basri Efendi mengatakan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat harus serius membantu pengungsi muslim Rohingya di Aceh.

“Dulu perang Vietnam, Indonesia menyediakan satu pulau untuk pengungsi dari Vietnam, ini yang harus dilakukan oleh Pemerintah Pusat membantu muslim Rohingya,” kata Basri Efendi kepada acehterkini, Senin (18/5/2015).

Aliansi Masyarakat Aceh terus melakukan aksi kemanusiaan membantu muslim Rohingya di Indonesia. “Tanggap darurat dalam bentuk penggalangan dana dan kampanye Rohingya sudah dilakukan, posko kemanusiaan dipusatkan di Taman Sultahanah Safiatuddin, Kota Banda Aceh,” pungkasnya.

Kemudian, Basri menambahkan bahwa pihaknya juga akan menggelar konperensi international terkait penanganan dan bantuan kemanusiaan untuk muslim Rohingya di Indonesia.

“Akan ada aksi massa di Bundaran Simpang Lima, Selasa (19/5/2015) menuntut bagaimana peran Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat menangani muslim Rohingya di Indonesia, kami menolak Rohingnya dideportasi,” ujar Basri juga sebagai Ketua Pusat Advokasi Hukum dan HAM (PAHAM) Aceh ini.

“Bukan solusi untuk memulangkan muslim Rohingya karena kondisi negaranya sedang konflik, kami menghendaki agar muslim Rohingya tetap di Indonesia,” demikian Koordinator Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya. [ate]

Ratusan Rohingya Baru Mendarat, Warga Aceh Bikin Dapur Umum

Aceh, CNN Indonesia -- Ratusan pengungsi etnis Rohingya dari Myanmar kembali mendarat di pantai Aceh pada Rabu (20/5) dini hari hingga pagi.

Setelah ribuan Rohingya tiba di tiga kabupaten Aceh pada minggu lalu, kali ini mereka terdampar di Desa Simpang Lhee, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur. (Baca: Ratusan Rohingya Kembali Mendarat di Aceh)

Menurut Hidayat, seorang anggota TNI Angkatan Laut yang mendata para pengungsi, kali ini total pengungsi berjumlah 389 orang, mayoritas merupakan warga Rohingya dan terdapat pula puluhan warga Bangladesh.
Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman mengatakan bahwa nelayan setempat yang pertama kali mengevakuasi para imigran.

“Mesin (kapal) para pengungsi ini rusak, ditemukan oleh nelayan malam tadi. Mesin perahu para pengungsi mati. Beberapa perahu nelayan langsung mengevakuasi ratusan orang di dalam kapal, paginya dilakukan pegangkutan pengungsi sisanya,” kata Hendri kepada CNN Indonesia di Aceh, Rabu.

“Mereka untuk sementara akan ditampung ke Polres sementara dilakukan koordinasi dengan pemerintah daerah.”

Menurut pengamatan CNN Indonesia, sejak pagi tadi, warga setempat secara sukarela mendirikan dapur umum di tepi pantai dan di meunasah atau mushola, tempat mereka kini berada setelah mendarat.

Warga dari beberapa desa juga terlihat berdatangan untuk memberikan makanan dan pakaian. Selang beberapa jam, makanan dan pakaian sudah terlihat menumpuk.

Di tempat penampungan sementara itu, warga Rohingya terlihat makan dengan lahap, mandi dan memakai pakaian yang disumbangkan.

Ketika terapung di lautan, para pengungsi hanya dibekali pemilik kapal dengan nasi, garam dan air yang jumlahnya terbatas dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ratusan orang. (Baca: Makan Nasi Garam Sehari Sekali, Ratusan Rohingya Tewas)

Sementara itu, badan pengungsi PBB, UNHCR, mengatakan masih ada ribuan warga Rohingya yang saat ini terkatung-katung di laut.

Sebelum kedatangan pagi ini saja, Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat terdapat 1.346 imigran gelap yang terdampar di Aceh. (stu)

Sumber : cnnindonesia.com

Aksi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya








Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya menggelar aksi solidaritas di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Selasa (19/5/2015). Aksi itu untuk mendesak dunia internasional dan PBB mencabut nobel perdamaian Aung San Su Kyi karena tidak peduli terhadap konflik etnis Rohingya di Myanmar sehingga terjadi ribuan pengungsi yang terombang-ambing di Selat Malaka. FOTO | Chaideer Mahyuddin/ACEHKITA.COM.

PBB Didesak Tindak Myanmar Terkait Imigran Rohingya


BANDA ACEH – Puluhan orang dari berbagai organisasi berunjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh. Mereka mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersikap tegas terhadap Pemerintah Myanmar yang tak mengakui warga Rohingya.

"Kami meminta PBB bersikap tegas terhadap Pemerintah Myanmar agar bersedia menerima kembali warga Rohingya dan memberikan lagi hak-hak politiknya," kata koordinator aksi, Darlis Aziz, dalam pernyataan sikapnya di aksi tersebut, Selasa (19/5/2015).

Darlis menilai Myanmar perlu belajar dari Indonesia, khususnya Aceh. Di Aceh sendiri, kaum minoritas tetap diperlakukan dengan baik tanpa diskriminasi.

"Kita di sini bisa hidup berdampingan dengan minoritas, memperlakukan minoritas dengan baik, kenapa Myanmar tidak bisa melakukannya," tuturnya.

Pemerintah Indonesia juga harus mendesak PBB, OKI, dan ASEAN agar bersikap dalam kasus Rohingya. Pemerintah juga diminta tak memulangkan dulu imigran Rohingya, karena situasi di negaranya belum menjamin kehidupan mereka.

"Biarkan mereka tinggal di Aceh dulu untuk sementara waktu," ujar Muhammad, seorang peserta aksi.

Ketua HAKKA Aceh, Khoi Khie Siong, mengatakan, komunitas Tionghoa di Aceh ikut mengutuk aksi penindasan terhadap warga Rohingya. Dalam orasi tersebut, ia mengajak semua umat beragama ikut mengawal dan membantu warga Rohingya.

Aksi massa yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya ini turut prihatin atas kehidupan warga Rohingya yang berbondong-bondong mengungsi dari negaranya karena gejolak politik di Myanmar.

Dalam 10 hari terakhir ribuan imigran Rohingya dan Banglades terdampar ke Aceh serta Sumatera Utara. Sebagian besar mereka kini ditampung di Aceh Utara dan Langsa, Aceh. Sisanya di Langkat, Sumatera Utara.

Selain menggelar unjuk rasa, Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya juga membuka posko #SaveRohingya di Anjungan Kota Langsa, Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin, Banda Aceh, untuk menerima berbagai bantuan dari masyarakat.

Mereka juga menggelar aksi turun ke jalan untuk menggalang bantuan. Bantuan yang terkumpul nantinya disalurkan ke imigran Rohingya yang ditampung di Aceh Utara dan Kuala Langsa.
(ful)   

Salman Mardira - Okezone.com

Ingin Bantu Muslim Rohingya? Salurkan Bantuannya ke Nomor Rekening Ini

BANDA ACEH – Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya (AMAPR) membuka posko di Anjungan Langsa Komplek PKA Ratu Safiatuddin, 19 Mei 2015.

Posko penerimaan bantuan dan sumbangan untuk masyarakat muslim Rohingya yang kini berada di penampungan dalam Langsa dan Aceh Utara ini, dibuka dari pukul 09.00-18.00 WIB.

“Untuk sementara dibuka dari pagi sampai sore. Tetapi direncanakan nanti juga dibuka sampai malam,” kata Basri Efendi, koordinator AMAPR yang dihubungi portalsatu.com, Selasa pagi tadi.

Katanya, bantuan darurat yang dibutuhkan oleh warga Rohingya sekarang adalah berupa bahan pangan seperti sembako, beras, minyak serta perlengkapan mandi dan sandal.

“Kalau pakaian sudah mencukupi, kalau kita sumbang lagi sudah menumpuk disana. Jadi lebih baik kita sumbangkan bantuan-bantuan lain masih layak pakai yang mereka butuhkan sekarang, “ katanya.

Ia melanjutkan, kebutuhan pangan berupa sembako adalah kebutuhan yang terus berlanjut dan terus dibutuhkan. Namun tidak ada salahnya jika ingin menyumbangkan dalam bentuk dana yang akan dipergunakan mereka sesuai dengan kebutuhannya.

Kata Basri, jumlah muslim Rohingya yang berada di Langsa dan Aceh Utara lebih kurang sudah mencapai 1.200 orang.

Bagi warga Aceh yang ingin menyumbang bisa melalui nomor rekening Bank Mandiri 158-0088-8388-4 atas nama Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya.

“Sebentar lagi kira-kira jam 11 kami juga akan mengadakan aksi di bundaran simpang lima,” ujarnya. []

Elemen Sipil Bentuk Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya

 
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Sejumlah elemen masyarakat sipil Aceh membentuk Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya, Sabtu (16/5/2015). Gerakan peduli Rohingya itu dideklarasikan oleh sedikitnya 15 komunitas.

Elemen sipil yang tergabung itu antara lain, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Wilayah Aceh, Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh, PAHAM Aceh, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), FPMPA, HIMMAH Aceh, BEM Unsyiah, DEMA UIN Ar-Raniry, Radio Ozz FM, Portalsatu.com, @AcehInfo, KSDA, APF, Aceh Loves Rohingya,.

“Aliansi ini akan terus bertambah dan menjadi arus utama dalam menyuarakan nasib Bangsa Rohingya Arakan ke depannya. Kita berharap mereka segera mendapat pengakuan sebagai warga negara di Myanmar,” kata Koordinator Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya, Basri Efendy.

Basri Effendy mengatakan, aliansi itu dibentuk sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan serta perintah agama.

Seperti diberitakan, sejak 10 Mei sudah 1.500 orang lebih para pengungsi pencari suaka dari suku Rohingya kembali datang ke daratan Aceh. Rombongan pertama yang terdiri dari 500 orang lebih yang terdampar di pesisir Aceh Utara.

Mereka terdiri dari 210 orang Rohingya asal Myanmar dan 395 orang dari Bangladesh. Kondisi kesehatan mereka buruk bahkan delapan orang di antara mereka kini berada dalam perawatan intensif.

Menyusul kemudian sekitar 800 orang “manusia perahu” kembali terdampar di Langsa. Mereka diketahui terdiri dari 256 orang Rohingya, termasuk perempuan dan anak-anak, dan 421 orang Bangladesh, semuanya laki-laki.

Aksi Peduli Rohingya dari Masyarakat Aceh



SatuNusaNews – Aktivis kemanusiaan yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya (AMAPR) menggelar aksi orasi dan menggalang dana untuk membantu imigran Rohingya di Simpamg Lima, Banda Aceh, Aceh, Selasa (19/5).
201505190418       201505190417
Seperti dikutip dari Antara, aktivis AMAPR mengecam kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar dan mendesak PBB, ASEAN, OKI untuk menekan Pemerintah Myanmar agar mengakhiri konflik dan kekerasan terhadap muslim Rohingya.#

Aceh Buka Donasi untuk Bantu Pengungsi Rohingya-Bangladesh

Petugas-petugas kemanusiaan pekan ini menyatakan mereka telah membuka akses kepada publik yang akan mendonasikan bantuannya untuk para pencari suaka dari Rohingya-Bangladesh yang terdampar di lepas pantai provinsi Aceh.

Budi Nahaba
Kaum Muda hari Minggu (17/5) membentuk Aliansi Aceh Peduli Rohingya dengan mengerahkan relawan gabungan lintas komunitas guna menggalang dana untuk pengungsi Rohingya dan Bangladesh di Aceh dan Sumatera Utara.
Warga Kota Langsa, Nurul Qamari dari Komunitas Perempuan Peduli mengatakan Minggu (17/5), kegiatan seluruh relawan termasuk distribusi berbagai bentuk bantuan dari sejumlah organisasi terhadap pengungsi Rohingya-Bangladesh berada langsung dibawah kendali petugas pemerintah lokal.
Nurul mengatakan, “Distribusi bantuan cukup banyak dari pemerintah (gabungan) dan bantuan langsung oleh warga, kemarin kami disana langsung mengakses para pengungsinya.”
Petugas pemerintah membangun posko induk kesehatan, tambah Nurul, pemerintah medirikan dapur umum dan posko distribusi logistik untuk pengungsi. Menurut Nurul Beberapa pengungsi tampak lemah, mengalami dehidrasi, trauma dengan kondisi kesehatan cukup kritis, dan hingga Minggu beberapa di antaranya anak dan beberapa pengungsi dewasa masih mendapat perawatan intensip petugas medis, baik di posko kesehatan pengungsian maupun yang dilarikan ke rumah sakit.
Petugas pemerintah melaporkan, imigran Rohingya-Bangladesh berjumlah 790 jiwa pencari suaka hari Jumat lalu (15/5) diselamatkan nelayan Aceh setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Saksi mata nelayan mengatakan, sebelum berhasil diselamatkan, ratusan pengungsi Rohingya-Bangladesh ditemukan kritis, terapung dan terombang ambing di laut dekat perairan Aceh Timur. Sepekan sebelumnya (10/5) nelayan Aceh menyelamatkan 582 jiwa warga Rohingya-Bangladesh di lepas pantai kabupaten Aceh Utara, yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka.
Tokoh Masyarakat Aceh Nurdin Hasan berada di lapangan hingga hari Minggu (17/5), melalui pesan singkat ponselnya menganjurkan kepada para penyumbang agar membantu mendonasikan sandal, kain sarung, mukena dan kupiah, terutama alat komunikasi telepon seluler (ponsel), pengungsi membutuhkan ponsel untuk menghubungi keluarganya di Myanmar dan Bangladesh. Sementara, Lintas komunitas pemuda disejumlah kota-kota kunci di Aceh terus menggalang dana dan membuka posko Aliansi Aceh Peduli Rohingya berpusat di Banda Aceh dengan Koordinator M. Basry dapat dihubungi melalui ponsel +62 85260056335.






Anggota Parlemen Aceh Komisi Luar Negeri Bardan Sahidi menekankan keutamaan para pemimpin negara di dunia proaktif menghentikan dugaan praktik diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang diduga didalangi oleh junta militer yang berkuasa di Myanmar.
“Kepada para pemimpin (dunia) agar mengambil langkah strategis mengakhiri genosida dan pembunuhan terhadap mulsim Rohingya di Myanmar,” kata Bardan.
Media jaringan lokal Aceh melaporkan, Wakil Gubenur Aceh Muzakir Manaf hari Sabtu (16/5) melihat dari dekat kondisi dan penanganan pengungsi di dua wilayah di Aceh itu. Wagub Muzakir menekankan pentingnya rakyat Aceh dan komunitas internasional membantu meringankan penderitaan warga Rohingya-Bangladesh yang mengalami krisis di negerinya.
Wagub Muzakir Manaf dalam kunjungan kerjanya di Aceh Tamiang baru-baru ini menyatakan Aceh berkomitmen membantu para pencari suaka. Wagub menekankan, bahwa Berapa pun jumlah etnis Rohingya (pengungsi pencari suaka) yang terdampar, Aceh siap menampungnya.”
Pemerintah Aceh, sampai Hari Minggu telah mendistribusikan puluhan truk bahan pangan kepada pengungsi Rohingya-Bangladesh, baik yang ditampung di Langsa Aceh Timur maupun di Lhoksukon Aceh Utara. Otoritas imigrasi menyatakan total pengungsi Rohingya dan Bangladesh yang terdampar di Aceh dan Sumatera Utara mencapai 2000 jiwa.
Sebelumnya, pihak Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan menyatakan, segera menurunkan petugas khusus,setelah membentuk satgas bagi pencari suaka muslim Rohingya-Bangladesh di tanah air. Satuan tugas (satgas) Rohingya-Bangladesh berada dibawah kendali langsung Presiden RI. Selain lembaga-lembaga pemerintah terkait dan badan bantuan dunia PBB UNHCR dan IOM, beberapa organisasi kemanusian nasional PKPU, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menerjunkan puluhan relawan tambahan untuk membantu pengungsi.
Situs resmi organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap ( ACT) melaporkan Sabtu (16/5), pihakya membangun posko Layanan Dapur Sosial khusus untuk anak-anak di lokasi pengungsian Rohingya dan Bangladesh, guna memulihkan keceriaan, menghibur anak-anak dengan aktivitas nonton bareng melalui sajian film-film edukatif.
Untuk donasi warga yang ingin membantu pengungsi Rohingya di Aceh, organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) membuka akses rekening atas nama Program Bantuan untuk Rohingya ACT BII Syariah Nomor Rekening 27 0000 6004, saluran telpon careline 021-7414482. Jemput bantuan via pesan singkat (SMS) 081283853434, Pin BB :27597105, atau menghubungi email: info@act.or.id, relawan ACT akan merespon melayani kelancaran donasi.
Selain ACT, penggalangan donasi untuk Rohingya juga disalurkan oleh sejumlah lembaga kemanusiaan, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat.
Sejak kudeta 1988, Myanmar berada di bawah kendali junta militer yang dinilai anti demokrasi dan otoriter. Denganpopulasi 50 juta jiwa, Myanmar memiliki luas wilayah 700 ribu kilo meter per segi atau sekitar dua kali luas pulau Sumatera. Sebagai salah satu negara miskin di Asia, per kapita Myanmar hanya sekitar US$ 1000, tidak lebih baik dari Indonesia yang per kapitanya mencapai US$ 5000.​

Aktivis Aceh Bentuk Aliansi Peduli Rohingya

TEMPO.CO , Banda Aceh:Para aktivis Aceh yang bergerak di sejumlah organisasi kebudayaan tergerak untuk membantu ratusan etnis Rohingya yang terdampar di Aceh Utara dan Kota Langsa. Mereka membentuk Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya (AMAPR).

Aliansi tersebut dikenalkan kepada publik dalam sebuah seminar yang digagas komunitas Persaudaraan Aceh untuk Kemanusiaan, yang membahas persoalan keberadaan etnis Rohingya. “Kami akan terus memperjuangkan tempat untuk pengungsi Rohingya,” kata Muhajir Ibnu Marzuki, ketua panitia seminar di Banda Aceh, Senin 18 Mei 2015.

Menurut Muhajir, hal lain yang diperjuangkan adalah menggelar unjuk rasa kemanusiaan, konser amal, dan konferensi internasional untuk Rohingya. Semua hal tersebut untuk mencari solusi terhadap etnis Rohingya, agar diperhatikan dunia internasional.

Peneliti peradaban Islam, Taqiyuddin Muhammad mengatakan Aceh menolong Rohingya karena pengaruh ajaran agama dan tuntutan hati nurani manusia. Muhajir menegaskan, banyak persoalan-persoalan yang terjadi bagi muslim di seluruh dunia yang jika diutarakan, tak pernah ada yang menanggapi. “Jadilah Aceh yang menanggapi dan berusaha untuk bisa menjadi penyelesaikan setiap persoalan tersebut.”

Menurut Muhajir, masyarakat Aceh yang menolong Rohingya merupakan satu propinsi yang kecil, namun yang mengalir dalam darah masyarakat adalah daulah dan yang mementingkan segala persoalan internasional. “Perlu segera mencari solusi yang lebih baik bagi Rohingya. Aceh harus mengambil tanggung jawab itu, ambillah peran dalam persoalan internasional,” kata Muhajir.

ADI WARSIDI
 
Copyright © 2015 Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya
Redaksi | Hubungi Kami